Tanggal Posting

April 2012
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Aktifitas


Kutipan Sejarah_03

Mongol, Penakluk yang Tertaklukkan

Oleh: Alwi Alatas*



Hidayatullah.com–Pada tulisan tentang “Mozarabic Christian” telah digambarkan betapa bangsa yang kalah, cenderung mengikuti bangsa yang menaklukkannya dalam hal cara berpakaian, berbahasa, dan dalam berbagai aspek kebudayaan lainnya. Namun, ada kalanya bangsa penakluk yang justru pada akhirnya terpengaruh oleh bangsa yang ditaklukkannya.

Fenomena semacam ini sebetulnya bisa dilihat pada kasus raja-raja Norman yang menguasai Sisilia. Mereka merebut dan menguasai pulau di Italia Selatan itu dari tangan kaum Muslimin, tapi kemudian mereka sendiri terpengaruh oleh kebudayaan kaum Muslimin di wilayah tersebut yang memang lebih maju dari kebudayaan Barat pada masa itu. Hanya saja, hal ini tidak berlangsung terus menerus, dan kaum Norman sendiri tidak pernah memeluk Islam sebagai agama mereka. Pada akhirnya, populasi Muslim di wilayah tersebut semakin menyusut dan ketika kendali gereja Katolik makin kuat, maka pengaruh Islam di wilayah tersebut bisa dikatakan lenyap sama sekali.

Tulisan kali ini akan membahas kisah penaklukkan besar-besaran oleh sebuah bangsa yang belakangan justru takluk dan tunduk pada kepercayaan dan kebudayaan bangsa yang ditaklukkannya. Ya, para penakluk tersebut adalah bangsa Mongol, dan yang ditaklukkannya adalah kaum Muslimin, di samping bangsa-bangsa lainnya. Ini terjadi pada abad ke-13. Fenomena ini memperlihatkan kepada kita bahwa kedigdayaan militer sebuah bangsa tidak otomatis menjadikan bangsa tersebut mampu memberikan pengaruh jangka panjang terhadap bangsa-bangsa lainnya yang berhasil ditaklukkannya. Kekuatan militer hanya memberikan kemampuan kontrol secara fisik saja. Pengaruh terbesar tidak datang dari kekuatan fisik semacam ini, melainkan dari sistem keyakinan dan penguasaan ilmu pengetahuan yang lebih unggul. Kedua hal yang terakhir ini tidak dimiliki secara baik oleh bangsa Mongol.

Dunia di abad ke-13 tidak pernah membayangkan akan lahir seorang seperti Temujin dan akan ada penaklukkan besar-besaran oleh bangsa Mongol. Hal semacam itu sudah lama berlalu sejak era Attila the Hun dan Alexander the Great. Temujin berhasil menyatukan suku-suku Mongolia di bawah kepemimpinnya dan mendapat gelar Genghis Khan pada tahun 1206. Penyatuan suku-suku Mongol ternyata tidak menjadi tujuan akhir Temujin, melainkan hanya permulaannya saja. Seperti dikatakan dalam sebuah ungkapan, “ketika kamu makan, nafsu makanmu bertambah.” Ini juga yang berlaku pada bangsa Mongol di bawah kepemimpinan Genghis Khan dan anak cucunya. Ketika sebuah wilayah berhasil ditaklukkan, nafsu untuk menaklukkan wilayah lainnya tidak berhenti, malah semakin kuat.

Bersatunya bangsa yang masih terbilang barbarik itu, menjadi suatu ledakan yang apinya menjalar cepat dan meruntuhkan peradaban-peradaban yang jauh lebih maju di sekitarnya. Satu per satu kerajaan-kerajaan di China dan Rusia, kesultanan-kesultanan Islam di Afghanistan, Asia Tengah, Persia, bahkan pusat kekhalifahan di Baghdad, hingga wilayah-wilayah Eropa Timur, rontok dan tak mampu membendung laju kuda-kuda Mongol yang agak pendek dan gesit itu. Bagi dunia Islam, penaklukkan oleh Mongol ini mungkin dilihat sebagai suatu pendahuluan, sekaligus miniatur keluarnya Ya’juj Ma’juj pada akhir zaman.

Kengerian yang ditimbulkannya seolah belum hilang di tempat-tempat yang pernah diserbu oleh pasukan Genghis Khan. Saat berkunjung ke Herat, Afghanistan, Mike Edwards mendengar komentar masyarakat tentang peristiwa yang berlaku tujuh setengah abad yang lalu itu, seolah baru saja terjadi sehari sebelumnya. “Hanya sembilan saja! Seluruh yang masih bertahan hidup di sini – sembilan orang!” seru seorang warga tua saat menggambarkan serangan Mongol ke kota itu (National Geographic, Desember 1996). Dan Herat bukan satu-satunya kota yang menerima nasib buruk dari pasukan Mongol.

Wilayah China Utara diinvasi oleh Mongol pada tahun 1211. Cucu Genghis Khan, Kubilai Khan, menyempurnakan penaklukkan China pada tahun 1279, sekitar setengah abad setelah kakeknya meninggal. Dinasti Mongol di China dikenal sebagai Dinasti Yuan.

Pada tahun 1219, pasukan Mongol menyerang kesultanan Khawarizmi dan merebut kota-kota penting, seperti Bukhara dan Samarkand. Dari sana, pasukannya menyerbu ke Utara dan mengalahkan pasukan Rusia. Kemudian berbalik arah lagi dan menaklukkan wilayah-wilayah Afghanistan dan Iran. Setelah kematian Genghis Khan, proses penaklukkan sama sekali tidak berhenti, malah semakin kuat. Pada tahun 1258, Hulagu Khan bahkan menyerang ibukota Kekhalifahan Bani Abbasiyyah di Baghdad dan menyebabkan simbol utama kepemimpinan dunia Islam itu runtuh. Dari sana, pasukan Mongol terus menginvasi Syria dan Palestina, serta berusaha masuk ke Mesir, tapi tertahan oleh tentara-tentara Mamluk Mesir melalui pertempuran Ayn Jalut. Penaklukkan Mongol atas dunia Islam terhenti di situ. Sementara di Utara, tentara-tentaranya terus menginvasi Eropa Timur hingga ke Laut Adriatik, dan nyaris meneruskannya hingga ke Eropa Barat.

Terlepas dari kemampuan militernya yang hebat, Mongol tidak menonjol secara kebudayaan. Walaupun para pemimpin Mongol mengundang para ahli ke pusat pemerintahannya untuk membangun negeri itu, tetapi bangsa Mongol sendiri tidak tampil sebagai ilmuwan, sastrawan, atau arsitek. Mereka tetap memainkan peran yang sama sebagaimana sebelumnya, yaitu sebagai tentara dan penunggang kuda yang tangguh. Kekosongan di lapangan peradaban otomatis diisi oleh bangsa-bangsa lainnya, dan kaum Muslimin memiliki peranan yang besar dalam hal ini.

Sejak awal perkembangannya, Genghis Khan sendiri sudah mengambil aspek kebudayaan Muslim untuk diterapkan bagi kemajuan bangsanya. Ia mengadopasi aksara Uyghur ke dalam bahasa Mongol dan memercayakan pendidikan anak-anak lelakinya pada kalangan Uyghur juga. Kendati bersikap sangat kejam terhadap lawan-lawan yang ditaklukkannya, sikap para pemimpin Mongol di luar pertempuran terhadap para ulama dan agamawan serta tempat-tempat ibadah relatif toleran. Hampir sebagian besar aspek peradaban di wilayah-wilayah Muslim yang ditaklukkan tetap diisi dan dikembangkan oleh para ahli Muslim. Bahkan satu-persatu pemimpin Mongol sendiri akhirnya masuk Islam.

Berke Khan (kami akan menulis secara khusus tentang beliau dan wilayah Golden Horde yang dipimpinnya pada kesempatan lain), salah satu pemimpin Mongol di wilayah Golden Horde yang mencakup Rusia dan sebagian Asia Tengah, termasuk yang awal masuk Islam. Ia ikut berperan menghalangi Hulagu Khan yang masih terhitung familinya sendiri dari upayanya menguasai seluruh Syria serta dari keinginannya merebut Mesir. Berke marah dan memerangi Hulagu karena yang terakhir ini telah meruntuhkan kekhalifahan Islam di Baghdad. Dinasti Il-Khan yang didirikan Hulagu sendiri pada akhirnya berubah menjadi dinasti Muslim. Sejarah Mongol ditulis terutama oleh para sejarawan Persia Muslim seperti Ala al-Din Juwaini dan Rashid al-Din Hamadani yang bekerja pada pemerintahan Mongol.

Keadaan di China tidak kalah menarik. Di bawah Dinasti Yuan, banyak posisi penting pemerintahan dan ilmu pengetahuan diisi oleh orang-orang Islam. Ketika dinasti ini runtuh pada pertengahan abad ke-14, posisinya digantikan oleh Dinasti Ming yang dalam beberapa sumber dikatakan sebagai sebuah dinasti Muslim. Sejak masa Dinasti Yuan, kaum Muslimin di China sudah dikenal sebagai orang-orang yang terpelajar. Pada masa Dinasti Ming, peran mereka jadi lebih menonjol lagi. Cheng Ho, yang dikenal sebagai salah satu admiral terbesar sepanjang sejarah dan disebut-sebut telah tiba di benua Amerika tiga perempat abad lebih dulu dari Colombus, merupakan pelaut Muslim yang mengabdi pada masa awal keberadaan Dinasti Ming. Kaum Muslimin memang telah ditaklukkan oleh bangsa Mongol yang bersatu padu dan kuat secara militer. Namun pada akhirnya justru mereka yang menaklukkan bangsa Mongol melalui sistem keyakinan dan pengetahuan mereka yang lebih menonjol.

Pada hari ini, kaum Muslimin juga telah takluk oleh peradaban Barat yang lebih ungul dalam hal militer dan pengetahuan. Namun, di sela-sela kekalahan tersebut, kita masih dibuat heran dengan begitu banyaknya masyarakat Eropa dan Amerika yang masuk Islam. Umat Islam berada di posisi yang lemah dan tak berdaya. Tidak sedikit dari mereka yang terpengaruh kebudayaan Barat. Tetapi itu ternyata tidak menghalangi masyarakat Barat sekarang ini berbondong-bondong masuk Islam. Begitu juga tidak sedikit gereja-gereja di Eropa dan Amerika Serikat yang dijual dan kemudian berubah menjadi masjid. Akankah fenomena yang pernah terjadi pada bangsa Mongol akan terjadi juga pada bangsa Barat, walaupun yang terakhir ini memiliki keunggulan lebih banyak dibandingkan bangsa Mongol? Akankah pada akhirnya Barat akan menundukkan diri dan menerima Islam, agama dari peradaban yang telah mereka taklukkan? Wallahu a’lam bis showab. [Jakarta, 6 Safar 1431/ 22 Januari 2010/www.hidayatullah.com]

***

Mozarabic Christians

Oleh: Alwi Alatas*


BEBEAPA bulan yang lalu, saat seorang famili berkunjung ke Kuala Lumpur, kami mendengar ceritanya tentang perkembangan terbaru di Jakarta. ”Sekarang di Jakarta sedang tren anak-anak perempuan pakai celana pendek,” terangnya sambil geleng kepala. ”Kok bisa ya mereka tanpa malu berada di tempat umum dengan celana yang pendek seperti itu. Malah ada yang kalau sedang duduk atau menunduk, maka kelihatan bagian belakangnya.”

Saya tidak tahu seperti apa keadaannya di lapangan, karena saya hanya mendengarnya dari orang lain. Tetapi hal ini mengingatkan saya pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Ketika Demi Moore tampil di film Ghost dengan potongan rambut pendek, tiba-tiba saja hal itu menimbulkan ’demam rambut pendek’ di kalangan perempuan-perempuan Indonesia. Sebagian besar dari perempuan-perempuan itu tentu saja Muslimah, dan mereka mengikuti model rambut yang sama sekali tidak diajarkan oleh agama mereka sendiri.

Kejadian-kejadian semacam ini selalu berulang, dan tidak hanya berlaku di kalangan kaum perempuan. Banyak pria Muslim yang juga suka sekali mengikuti tren dan gaya hidup terbaru yang datang dari Barat, tanpa menimbang apakah itu sesuai dengan ajaran agamanya atau tidak. Semua yang datang dari Barat, dari bangsa yang sedang mendominasi peradaban modern, dianggap layak untuk ditiru. Sampai sekiranya mereka diajak untuk masuk ke lubang biawak, tentu mereka akan mengikutinya.

Kita mau tidak mau mesti mengakui bahwa tidak sedikit dari kaum Muslimin pada hari ini telah berperilaku kebarat-baratan. Mereka telah terbaratkan dan kita bisa menyebutnya sebagai ’westernized Muslims.’

Bagi kaum Muslimin yang baik pemahamannya dan lebih kuat komitmennya terhadap nilai-nilai Islam, fenomena ini tentu terlihat aneh, menyedihkan, sekaligus juga menggemaskan. Kaum Muslimin yang kebarat-baratan lebih suka berbahasa Inggris daripada berbahasa Arab, akrab dengan kalender Masehi dan lupa akan kalender hijriah. Melecehkan saudara yang memelihara jenggot atau saudarinya yang berjilbab, sementara pada saat yang sama senang mengikuti penampilan, gaya berpakaian, dan gaya hidup masyarakat Barat yang tidak sejalan dengan agamanya sendiri. Mengapa semua itu sampai terjadi? Apakah ini merupakan hal yang wajar?

Jika ditanya apakah fenomena semacam ini wajar atau tidak, maka jawabannya bisa dua. Kalau yang dimaksud dengan wajar di sini adalah bahwa hal itu normal dan pantas untuk dilakukan, maka jawabannya adalah ’tidak wajar.’ Tindakan ikut-ikutan semacam itu sama sekali ’tidak pantas’ dilakukan oleh orang-orang yang berakal dan memiliki prinsip dalam hidup. Sebagian besar perilaku ikut-ikutan tren itu dilakukan tanpa pertimbangan rasional dan intelektual, dan itu hanya merendahkan kedudukan manusia sebagai makhluk yang berpikir. Tapi jika yang dimaksud dengan wajar di sini adalah ’fenomena sejarah dan peradaban yang biasa terjadi,’ maka jawabannya adalah ’ya, ini merupakan hal yang memang biasa terjadi.’

Budaya Inferior dan Pengaruh Islam

Fenomena ikut-ikut terhadap kebudayaan yang dominan tidak hanya terjadi pada kaum Muslimin, dan juga tidak hanya terjadi pada zaman modern ini saja. Sekarang ini, kaum Muslimin bukan satu-satunya pihak yang menyaksikan sebagian anggotanya terbaratkan. Banyak komunitas lain juga mengalami hal yang sama. Masyarakat Jepang yang menganut Shinto, juga banyak yang terbaratkan. Begitu juga sebagian masyarakat China yang menganut Budha dan Konghucu, segolongan masyarakat India yang Hindu, dan kelompok masyarakat dunia lainnya. Sejak dua abad terakhir, atau lebih, peradaban Barat telah tampil mendominasi dunia. Sebagai konsekuensinya, kebudayaan mereka menghegemoni peradaban dunia dan membuat sebagian masyarakat di luarnya mengalami inferiority complex dan cenderung mengikuti kebudayaan mereka, entah itu baik atau buruk, entah mereka memahaminya atau tidak.

Bangsa yang kalah selalu ingin mengikuti bangsa yang menang, demikian dinyatakan oleh Ibn Khaldun. Itu menjelaskan apa yang berlaku sekarang ini, dan apa yang berlaku juga di masa-masa yang lalu. Peradaban Barat sedang menang dan mendominasi, lantas bangsa-bangsa yang kalah cenderung mengikuti perilaku dan cara hidup mereka. Berdasarkan penjelasan ini kita dapat berasumsi bahwa jika yang unggul adalah peradaban lain, maka corak kebudayaan yang mendominasi adalah kebudayaan mereka. Sekiranya peradaban Melayu-Indonesia menjadi peradaban yang mendominasi dunia, maka kita akan mendapati sebagian orang Barat (dan juga bangsa-bangsa lainnya) menggunakan nama Rusdi, Agus, Siti, dan lain-lain. Sarung dan kopiah akan menjadi tren pakaian global; rendang dan nasi uduk/nasi lemak akan dijual di franchise-franchise internasional dan bergengsi; gamelan dan angklung mungkin akan lebih populer dari biola dan piano; Hikayat Abdullah menjadi rujukan sastra dunia; dan tokoh-tokoh seperti Walisongo masuk dalam kisah-kisah klasik yang mendunia. Ini hanya sebuah permisalan saja.

Membuat permisalan saja kadang tidak memadai. Kita memerlukan contoh nyata, dan itu bisa kita dapatkan di dalam sejarah. Barat tidak selamanya berada di atas dan Muslim tidak selalu berada di bawah. Ada kurun waktu kaum Muslimin pernah berjaya dan masyarakat Barat menjadi pihak yang kalah dan dipimpin. Pada masa itu, fenomena yang dijelaskan oleh Ibn Khaldun juga terjadi.

Ketika Islam masuk ke Spanyol dan membangun peradaban yang indah selama beberapa ratus tahun, kebudayaan Arab-Muslim mendominasi kawasan tersebut. Peradaban Islam dikenal sebagai peradaban yang toleran. Komunitas Kristen Andalusia dipersilahkan tetap tinggal di wilayah Muslim dan diperbolehkan mempraktikkan agama mereka. Mereka hidup di quarter mereka sendiri atau tinggal sebelah menyebelah dengan kaum Muslimin.

Pada perkembangannya, mereka terpengaruh oleh kebudayaan Arab-Muslim dan mengambilnya ke dalam keseharian mereka. Cara hidup mereka yang mirip dengan kaum Muslimin membuat mereka kemudian dikenal sebagai orang-orang Kristen yang terarabkan, Mozarabic Christians atau kaum Kristen Mozarab.

Istilah Mozarab ini merupakan istilah yang menarik. Pendapat yang umum diterima menyatakan bahwa istilah ini bersumber dari kata Arab musta’rib yang artinya kurang lebih ’terarabkan’ (arabised). Namun Encyclopaedia of Islam menyebutkan bahwa teks-teks Hispano-Arab sendiri kurang mengenal istilah ini. Tidak tertutup kemungkinan istilah ini justru dimunculkan oleh kalangan internal Kristen sebagai kritik dan celaan terhadap rekan-rekan mereka di selatan Spanyol yang rela hidup di bawah dominasi Muslim.

Komunitas Kristen Mozarab tidak berkonversi ke agama Islam, tetapi mereka mengambil dan mempraktikkan banyak aspek dari kebudayaan Arab-Muslim. Pada saat itu posisi masyarakat Kristen Barat, khususnya yang berada di Spanyol, sangat inferior di hadapan peradaban Islam yang mendunia dan tumbuh dengan sangat cepat. Maka banyak dari mereka yang kemudian mengadopsi kebudayaan kaum Muslimin dalam hal bahasa, cara berpakaian, model rambut, pola pernikahan, kebiasaan berkhitan, pembatasan makanan, sastra, hingga musik. Kaum Kristen Mozarab pada masa itu dapat dijumpai di kota-kota penting di Andalusia, seperti Cordova, Seville, Merida, Toledo, dan kota-kota lainnya.

Jika pada masa sekarang ini kalangan Muslim yang terbaratkan menerima pengaruh berupa cara pakaian yang lebih terbuka dan vulgar, serta pola pergaulan lawan jenis yang bebas, masyarakat Kristen Andalusia yang terarabkan pada masa itu menerima pengaruh berupa cara berpakaian yang lebih sopan, pola hidup yang lebih higienis, serta kecenderungan untuk tidak makan daging babi. Perubahan pola hidup ini sangat signifikan dan begitu kontras jika dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang lain. Pengamatan terhadap penduduk Kristen di Jiliqiyya oleh Ibrahim al-Turthusi memberi gambaran semacam ini:

”Penduduknya… tidak menjaga kebersihan mereka dan hanya membasuh diri dengan air dingin satu atau dua kali saja dalam setahun. Mereka tidak pernah mencuci pakaian mereka sejak mereka mengenakannya hingga pakaian tersebut hancur di badan mereka, dan mereka mempercayai bahwa kotoran yang menempel di tubuh dan bercampur dengan keringat merupakan hal yang bagus bagi tubuh mereka dan membuat mereka tetap sehat. Pakaian-pakaian mereka sangat ketat dan banyak bagiannya yang terbuka, sehingga memperlihatkan sebagian besar anggota tubuh mereka.” Kendati demikian, mereka ini ”memiliki keberanian yang besar dan tidak pernah lari dari medan pertempuran…”

Kecenderungan penduduk Kristen terhadap budaya Arab-Muslim telah menimbulkan kekesalan saudara-saudara mereka yang lebih fanatik. Di Cordova pada pertengahan abad kesembilan, ketidaksukaan ini diekspresikan dengan cara melakukan ’teror’ di depan umum. Mereka melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam dan terhadap Islam secara terbuka. Mereka mengetahui bahwa penghinaan semacam itu di dunia Islam memiliki konsekuensi hukuman mati. Memang itulah yang ingin mereka lakukan: menjadi martir. Insiden-insiden semacam ini sempat berlangsung selama beberapa waktu hingga pemimpin ideologis mereka, Eulogius, ditangkap dan dihukum mati.

Eulogius dan kelompoknya telah membuat propaganda dengan menyatakan bahwa orang-orang Kristen telah ditindas di bawah pemerintahan Islam. Mereka mengeluhkan pengaruh kebudayaan Islam terhadap generasi muda Kristen yang mulai cenderung mengabaikan budaya mereka sendiri dan bersemangat mempelajari bahasa Arab dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat Islam. Mereka cukup berhasil dalam memancing ketegangan antara pemerintah Muslim dan umat Kristiani di Cordova. Tetapi kecenderungan masyarakat Kristen dalam mengadopsi kebudayaan Muslim tetap berlangsung selama beberapa abad berikutnya.

Sebagian dari orang-orang Kristen di selatan ada yang bermigrasi ke utara Spanyol dan ditampung oleh kerajaan Kristen yang ada di sana. Mereka membawa kebudayaan Muslim bersama mereka ke tempat yang baru. Kerajaan Asturias yang menerima mereka pun menerimanya karena alasan-alasan praktis. Mereka memiliki keterampilan dan tingkat peradaban lebih baik yang bisa dimanfaatkan oleh kerajaan tersebut. Kaum Kristen Mozarab ini membangun gereja-gereja baru di Utara dan mengembangkan sastra dan kebudayaan di sana. Mereka mempertahankan penggunaan bahasa Arab pada komunitas mereka. Manuskrip-manuskrip mereka banyak diwarnai corak-corak yang khas.

Gereja-gereja mereka, yang dikenal sebagai gereja Mozarab, memiliki lengkung-lengkung arkade tapal kuda dan mirip dengan yang biasa di jumpai di gedung-gedung dan masjid Cordova. Bahkan liturgi dan senandung gerejawi mereka pun berbeda dengan yang ada di gereja-gereja Katolik dan dikenal dengan istilah Mozarab juga, walaupun yang terakhir ini mungkin bersumber dari tradisi Kristen Visigoth yang eksis sebelum masuknya Islam ke wilayah Spanyol.

Dengan jatuhnya Toledo ke tangan pasukan Kristen pada tahun 1085 dan proses reconquista yang sedikit demi sedikit mendesak kaum Muslimin ke selatan, pengaruh dan eksistensi kaum Kristen Mozarab semakin berkurang. Pihak Katolik yang semakin kuat pengaruhnya di Spanyol menilai praktik-praktik keagamaan kaum Mozarab sebagai penyimpangan dan berusaha menghapusnya. Kalau mereka memerlukan waktu yang cukup panjang untuk menghapus pengaruh kebudayaan Islam di dunia Kristen, hal itu merupakan hal yang wajar. Selama berabad-abad peradaban Islam masih memimpin dunia dan daya pikatnya sulit untuk diabaikan oleh mereka-mereka yang ingin mencicipi kemajuannya.

Sebagaimana pernah kami singgung dalam tulisan yang lain, sikap kearab-araban ini tidak hanya berlaku di Andalusia, tetapi juga di beberapa wilayah Barat lainnya, terutama Sisilia. Sejak akhir abad kesebelas Sisilia yang sempat dikuasai Islam jatuh ke tangan bangsa Norman. Namun penguasa-penguasa Kristen generasi kedua dan berikutnya segera jatuh cinta pada kebudayaan Islam. Mereka menguasai bahasa Arab dengan baik, menggunakan gelar-gelar Arab, mencantumkan gelar Arab itu di dalam koin yang mereka cetak, mengundang dan mendanai para ilmuwan dan sastrawan Muslim, dan bersikap sangat toleran terhadap warga Muslim mereka -sikap yang sama sekali tidak akan dijumpai pada wilayah-wilayah Eropa yang dikendalikan oleh Katolik pada masa itu. Paus yang merasa kesal dengan sikap kekristenan yang ambigu dari raja-raja ini, menjuluki mereka sebagai ’sultan-sultan yang dibaptis’ (the baptized sultans) atau Krypto-Muslims.

Kecenderungan mereka terhadap kebudayaan Islam begitu menonjol sampai-sampai salah satu raja mereka, Frederick II (1208-1250), memprotes saat berkunjung ke Yerusalem dan tidak mendengar suara azan. Ia meminta Gubernur kota tersebut agar memerintahkan para muazzin mengeraskan azannya seperti biasa karena ia suka mendengarnya. Saat meninggal dunia, ia minta dikuburkan dengan menggunakan kain kafan, sebagaimana tradisi umat Islam. Sikap cenderung pada kebudayaan Islam di Sisilia ini tidak hanya berlaku di kalangan para raja, tetapi juga rakyat biasa.

Seorang pengembara Muslim bernama Ibn Jubayr mencatat beberapa kebiasaan Muslim yang diadopsi oleh komunitas Kristen saat ia berkunjung ke pulau itu pada tahun 1185. Ibn Jubayr menyebutkan bahwa kaum perempuan di pulau itu banyak yang mengikuti cara berpakaian kaum Muslimin, termasuk menggunakan kerudung. Masyarakat Kristen di pulau tersebut juga tidak makan daging babi. Namun, karena tekanan Vatikan, pengaruh dan eksistensi umat Islam di pulau tersebut terus dikikis hingga akhirnya terhapus sama sekali pada tahun 1300.

Hal semacam ini selalu berlaku di sepanjang sejarah. Bangsa yang inferior cenderung mengikuti bangsa yang lebih superior secara politik dan budaya. Hal itu juga yang sedang terjadi pada banyak kaum Muslimin hari ini. Pertanyaannya adalah, sampai kapan kaum Muslimin akan membiarkan peradabannya terus berada di posisi yang inferior? Dan akhirnya, terlepas dari kekalahan budaya yang mereka derita, semoga kaum Muslimin yang hidup di zaman modern ini mampu bersikap independen terhadap penetrasi budaya Barat, seperti sikap yang diambil Malik Bennabi saat ia memilih untuk tidak bersikap inferior ataupun superior terhadap kebudayaan Barat.

Ia lebih memilihnya untuk menempatkan peradaban Barat sesuai dengan konteks sejarahnya. Dengan begitu kaum Muslimin akan memahami bahwa masyarakat Barat pun pernah kalah secara budaya dan kedigdayaan mereka hari ini juga tidak akan bertahan selamanya. Dari sana kaum Muslimin bisa membebaskan diri mereka dari sikap ikut-ikutan yang bodoh dan tidak perlu, dan kemudian merencanakan langkah-langkah strategis untuk membangun kembali peradaban mereka yang tengah terpuruk. [Kuala Lumpur, 17 Muharram 1431/3 Januari 2010/ www.hidayatullah.com]

Penulis sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia


 


1 comment to Kutipan Sejarah_03

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>